RESEARCH

RESEARCH

01 Maret 2019

Fixed Income Notes 01 Maret 2019

Perubahan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Kamis, tanggal 28 Februari 2019 bergerak dengan arah yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta aksi ambil untung (taking profit) dari para pelaku pasar.

Pada perdagangan kemarin hari Kamis, tanggal 28 Februari 2019, perubahan harga Surat Utang Negara mencapai 495 bps dengan rata-rata  penurunan sebesar 32 bps yang mendorong adanya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 47 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan sebagian besar serinya mengalami koreksi harga yang berkisar antara 8 bps hingga 21 bps yang mengakibatkan adanya kenaikan tingkat imbal hasil hingga 2,2 bps. Adapun perubahan kenaikan imbal hasil terbesar didapati pada Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 20 tahun sebesar 2,2 bps di level 8,240% yang didorong oleh penurunan harga sebesar 21 bps dan dilanjutkan pada Surat Utang Negara bertenor 10 tahun yang ditutup dengan mengalami kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 1,5 bps di level 7,794% yang di akibatkan turunya harga sebesar 11 bps. Selanjutnya, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 0,9 bps di level 8,115 yang berdampak setelah terjadinya penurunan harga sebesar 8 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara bertenor 5 tahun satu-satunya seri acuan yang mengalami kenaikan harga sebesar 7 bps yang berdampak kepada turunnya tingkat imbal hasil sebesar 1,6 bps di level 7,481%.

Kenaikan tingkat imbal hasil yang terjadi pada perdagangan kemarin lebih banyak dipengaruhi oleh faktor perubahan nilai tukar mata uang Rupiah yang melemah terhadap Dollar Amerika pada sepanjang sesi perdagangan. Hal ini disebabkan para pelaku pasar menjadi pesimis atas sentimen negosiasi damai dagang antara Amerika dan China yang tampaknya belum ada kejelasan. Selain itu, para pelaku pasar juga banyak yang melakukan aksi ambil untung (taking profit) secara jangka pendek setelah harga Surat Utang Negara yang mengalami kenaikan  cukup panjang sejak pekan lalu. Turunnya harga Surat Utang Negara diikuti juga dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang negara berkembang yang lain.

Kenaikan tingkat imbal hasil juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah tingkat imbal hasil US Treasury yang cenderung mengalami koreksi. Perubahan tingkat imbal hasil pada Surat Utang Negara berdenominasi mata uang Dollar Amerika terjadi pada keseluruhan serinya. Adapun tingkat imbal hasil seri INDO24 mengalami kenaikan  sebesar 1 bps di level 3,848% yang didorong oleh perubahan harga sebesar 4,9 bps. Adapun untuk seri INDO29 dan INDO44 mengalami perubahan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 1,2 bps di level 4,178% dan 1,3 bps di level 5,000% yang berdampak setelah terjadinya perubahan harga sebesar 9,6 bps dan 21,3 bps. Sementara itu, untuk seri INDO49 mengalami kenaikan imba hasil sebesar 1,3 bps di level 4,897% yang disebabkan oleh penurunan harga sebesar 22 bps. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan   hari Kamis, tanggal 28 Februari 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp16,96 triliun dari 52 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Adapun Surat Utang Negara seri FR0073 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,56 triliun dari 22 kali transaksi di harga rata - rata 105,00% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp2,15 triliun dari 132 kali transaksi di harga rata - rata 102,57%. Sementara itu, untuk perdagangan Sukuk Negara, Sukuk Negara Ritel seri SR008 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp366,03 miliar dari 11 kali transaksi dan diiringi dengan volume Project Based Sukuk seri PBS014 sebesar Rp222,65 miliar untuk 8 kali transaksi.

Volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp677,08 miliar dari 36 seri obligasi korporasi yang ditransaksikan. Adapun perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap II Tahun 2018 Seri A (WSKT03ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp190,00 miliar dari 13 kali transaksi di harga rata - rata 97,65% dan diikuti oleh  Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Panin Tahap II Tahun 2017 (PNBN02SBCN2) senilai Rp101,60 miliar dari 37 kali transaksi di harga rata-rata 100,80%. Selanjutnya, untuk obligasi dengan volume Rp48,00 miliar dari 4 kali transaksi didapati pada perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Bank BTN Tahap I Tahun 2017 Seri A (BBTN03ACN1).

Pada perdagangan kemarin hari Kamis tanggal 28 Februari 2019, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami pelemahan sebesar 39 pts (0,28%) di level 14069,00 per Dollar Amerika dimana pelemahan nilai tukar Rupiah terjadi di sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14030,00 hingga 14080,00 per Dollar Amerika. Adapun nilai tukar mata uang Rupiah yang mengalami pelemahan terjadi ditengah nilai tukar mata uang regional mengalami perubahan yang bervariasi terhadap mata uang Dollar Amerika. Mata uang Peso Filipina (PHP) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,38% dan diikuti oleh penguatan mata uang Rupee India sebesar 0,24%. Mata uang Yen Jepang (JPY) juga mengalami penguatan sebesar 0,23%. Sedangkan mata uang yang mengalami pelemahan paling tinggi didapati pada mata yang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,48% yang diiringi dengan perubahan mata uang Baht Thailand (THB) dan mata uang Rupiah Indonesia masing-masing melemah sebesar 0,41% dan 0,28% terhadap Dollar Amerika.

Imbal hasil dari US Treasury terjadi dengan arah pergerakan yang bervariasi. Adapun imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun mengalami penguatan sebesar 0,6 bps pada level 2,717%. Namun, pada US Treasury bertenor 30 tahun  mengalami pelemahan sebesar 0,1 bps sehingga berada pada level 3,083%. Pergerakan imbal hasil US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami koreksi, dimana indeks NASDAQ ditutup melemah sebesar 29 bps sehingga berada pada level 7532,53 sedangkan untuk indeks DJIA melemah sebesar 27 bps sehingga berada pada level 25916,00. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dan pasar obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun masing-masing mengalami penurunan di level 1,293% dan 0,184%. Adapun untuk yang bertenor 30 tahun juga ikut mengalami penurunan masing-masing di level 1,812% dan 0,81%

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan berpeluang untuk mengalami penurunan yang didorong oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Selain itu, banyaknya para pelaku pasar yang melakukan aksi ambil untung (taking profit) di tengah adanya isu global damai dagang antara Amerika dan China yang belum menemui kejelasan juga menjadi sentimen negatif dan membuat para pelaku pasar menjadi pesimis. 

Rekomendasi

Dari beberapa faktor tersebut maka kami perkirakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini akan cenderung bergerak terbatas. Kami masih menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara dengan melakukan strategi trading di tengah harga Surat Utang Negara yang masih bergerak berfluktuasi. Kami juga masih merekomendasikan seri - seri Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, yaitu seri FR0069, FR0053, FR0061, FR0070, FR0063, FR0056, FR0059, FR0071, FR0068, dan FR0058.

Pekan depan pemerintah akan melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada hari Selasa, tanggal 5 Maret 2019 dengan seri SPN-S06092019 (new issuance), PBS014 (reopening), PBS019 (reopening), PBS022 (reopening), PBS015 (reopening).

 

Download PDF