RESEARCH

RESEARCH

06 Februari 2019

Fixed Income Notes 06 Februari 2019

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan awal pekan ini hari Senin, tanggal 4 Februari 2019 ditutup menguat yang masih didukung oleh katalis positif dari Bank Sentral Amerika yang mempertahankan suku bunga acuan pada pertengahan pekan lalu
 
Kenaikan harga terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Berharga Negara dengan kenaikan yang mencapai 150 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 21 bps. Adapun untuk Surat Berharga Negara seri acuan, kenaikan harga yang terjadi mencapai 28 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil yang berkisar antara 1,8 bps hingga 4 bps dengan kenaikan harga tertinggi didapati pada seri acuan bertenor 10 tahun sebesar 28 bps yang menyebabkan penurunan tingkat imbal hasil sebesar 4 bps dan kemudian diikuti oleh seri acuan bertenor 20 tahun yang mengalami perubahan harga sebesar 20 bps yang mendorong penurunan tingkat imbal hasil sebesar 2 bps. Sementara itu, untuk Surat Berharga Negara seri acuan bertenor 5 tahun didapati perubahan harga sebesar 8 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 2 bps. Adapun untuk seri acuan dengan tenor 15 tahun mengalami kenaikan harga sebesar 19 bps yang mengakibatkan penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 2 bps. 
 
Kenaikan harga yang terjadi pada Surat Berharga Negara pada perdagangan di awal pekan ini masih didukung oleh katalis positif dari Bank Sentral Amerika yang mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 2,25%-2,50% pada pertengahan pekan lalu. Pelaku pasar merespon kondisi tersebut dengan melakukan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder, sehingga mendorong terjadinya kenaikan harga terutama pada Surat Berharga Negara dengan tenor menengah dan panjang.  Namun, pada awal pekan ini, kami melihat kenaikan harga tersebut diikuti oleh volume perdagangan yang mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar cenderung menahan diri guna melakukan transaksi di pasar sekunder jelang disampaikannya data pertumbuhan GDP kuartal IV tahun 2018. 
 
Pada awal pekan ini, pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika terlihat mengalami penurunan ditengah melemahnya imbal hasil US Treasury. Adapun perubahan harga terjadi pada sebagian besar seri Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika. Imbal hasil dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 2 bps di level 3,741% setelah mengalami koreksi harga sebesar 9,5 bps. Selanjutnya, imbal hasil dari INDO29 terlihat mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 3,3 bps di level 4,105% setelah mengalami penurunan harga sebesar 28,20 bps. Sementara itu, untuk INDO44 dan INDO49 didapati perubahan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 0,7 bps di level 4,938% dan 2,5 bps di level 4,866% yang disebabkan oleh pergerakan harga yang mengalami koreksi masing-masing sebesar 12 bps dan 42 bps.
 
Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan di awal pekan menurun dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya senilai Rp10,91 triliun dari 36 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan tertinggi didapati pada Surat Berharga Negara berseri acuan yaitu, FR0078 senilai 2,725 triliun dari 84 kali transaksi, dan diikuti oleh Surat Utang Negara dengan seri FR0068 senilai 1,207 triliun untuk 38 kali transaksi. Adapun volume terbesar pada urutan ketiga dan keempat didapati Surat Berharga Negara seri FR0059 dan seri FR0064 masing-masing senilai 1,014 triliun dari 41 kali transaksi dan 924,3 triliun dari 40 kali perdagangan.
 
Volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan, senilai Rp1,52 triliun dari 35 seri surat utang korporasi yang ditransaksikan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank III Tahap IV Tahun 2017 Seri B (BEXI03BCN4) senilai Rp280,00 miliar dari 5 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan surat utang korporasi seri Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank III Tahap IV Tahun 2017 Seri C (BEXI03CCN4) dan seri Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap IV Tahun 2019 Seri A (ADMF04ACN4) masing-masing senilai Rp200,00 miliar dari 4 kali transaksi dan Ro155,00 miliar untuk 9 kali transaksi. Adapun, untuk obligasi korporasi Syariah dengan seri Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance Tahap III Tahun 2019 Seri A (SMADMF03ACN3) didapati volume perdagangan terbesar keempat sebesar Rp120,00 miliar dari 14 kali transaksi.
 
Sementara itu, menjelang libur diawal pekan ini, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami pelemahan sebesar 14,00 pts (0,10%) di level 13961,50 per Dollar Amerika. Bergerak dengan mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 13950,00 hingga 13994,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut ikut melemah ditengah nilai tukar mata uang regional yang mengalami koreksi terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun satu-satunya penguatan mata uang regional yang mengalami penguatan terbatas yaitu mata uang Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,06. Sedangkan, untuk pelemahan nilai mata uang tertinggi didapati pada mata uang Rupee India (INR) dan mata uang Yen Jepang (JPY) masing-masing sebesar 0,62% dan 0,35%. Adapun mata uang Dollar Hongkong (HKD), mata uang Renminbi China (CNY), mata uang Won Korea Selatan (KRW) serta mata uang Dollar Taiwan (TWD) tidak mengalami perubahan nilai tukar mata uang. Hal ini dikarenakan pasar di keempat negara tersebut libur yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek.
 
Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup melemah sebesar 93 bps yang berada pada level 2,70% dan untuk yang bertenor 30 tahun pada perdagangan kemarin juga ditutup melemah sebesar 76 bps yang berada pada level 3,03% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak dengan arah yang positif. Indeks DJIA ditutup menguat sebesar 68 bps pada level 25411,52 dan indeks NASDAQ juga ditutup dengan mengalami penguatan sebesar 74 bps sehingga berada pada level 7402,08. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) bertenor 10 tahun mengalami pelemahan sehingga berada pada level 1,23% dan untuk yang bertenor 30 tahun juga ikut melemah di level 1,734%. Adapun untuk pasar obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun didapati perubahan yang positif berada di level 0,171%.
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih kembali berpeluang untuk mengalami kenaikan didorong oleh perkirakaan ekonom mengenai pertumbuhan GDP di kuartal IV dibandingkan dengan kuartal III secara YoY. Namun katalis negatif datang dari imbal hasil surat utang global yang mengalami keniakan. Sementara itu, dari dalam negeri kami perkirakan para pelaku pasar masih akan melakukan aksi wait and see terlebih dahulu jelang dirilisnya data pertumbuhan GDP Indonesia kuartal IV tahun 2018 pada pekan ini.
 
*Rekomendasi*
Dengan kombinasi dari beberapa faktor tersebut, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Arah pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati diantaranya adalah sebagai berikut ini : FR0077, FR0079, FR0070, FR0069, FR0053 dan FR0056. 
 
*Rencana Lelang Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk Negara seri SPN-S 01082019 (Reopening), PBS014 (Reopening), PBS019 (Reopening), PBS022 (Reopening) dan PBS015 (Reopening) pada hari Rabu tanggal 6 Februari 2019.*
 
Pemerintah akan melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada hari Selasa, tanggal 22 Januari 2019. Seri SBSN yang akan dilelang adalah seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara - Syariah) dan PBS (Project Based Sukuk) untuk memenuhi  sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2019. Target penerbitan adalah senilai Rp8 triliun dengan seri – seri yang akan dilelang adalah sebagai berikut:
 
Surat Perbendaharaan Negara seri SPN-S 01082019 (Diskonto; 1 Agustus 2019);
Project Based Sukuk Seri PBS014 (6,5000%; 15 Mei 2021);
Project Based Sukuk Seri PBS019 (8,2500%; 15 September 2023);
Project Based Sukuk Seri PBS022 (8,6250%; 15 April 2034); dan 
Project Based Sukuk Seri PBS015 (8,0000%; 15 Juli 2047).
 
Kami perkirakan jumlah penawaran yang masuk akan berkisar antara Rp15—25 triliun dengan jumlah penawaran terbesar masih akan didapati pada Surat Perbendaharaan Negara serta pada PBS014. Berdasarkan kondisi di pasar sekunder menjelang pelaksanaan lelang, kami perkirakan tingkat imbal hasil yang akan dimenangkan pada lelang hari ini adalah sebagai berikut :
 
Surat Perbendaharaan Negara seri SPN-S 01082019 berkisar antara 6,31250-6,40625;
Project Based Sukuk seri PBS014 berkisar antara 7,65625 - 7,75000;
Project Based Sukuk seri PBS019 berkisar antara 7,81250 - 7,90625;
Project Based Sukuk seri PBS022 berkisar antara 8,37500 - 8,46875; dan
Project Based Sukuk seri PBS015 berkisar antara 8,96875 - 9,06250.
 
Lelang akan dibuka pada hari Rabu tanggal 6 Februari 2019 pukul 10.00 WIB dan ditutup pukul 12.00 WIB. Hasil lelang akan diumumkan pada hari yang sama. Adapun setelmen akan dilaksanakan pada hari Jum'at, tanggal 8 Februari 2019 atau 2 hari kerja setelah tanggal pelaksanaan lelang (T+2).  Di tahun 2019, target penerbitan bersih (net issuance) Surat Berharga Negara senilai Rp389,0 triliun dimana pada kuartal I tahun 2019 pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp185,00 triliun dari 7 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara. Pada lelang sebelumnya, pemerintah meraup dana senilai Rp7,64 triliun dari total penawaran yang masuk senilai Rp24,47 triliun. 

 

Download PDF