RESEARCH

RESEARCH

10 Januari 2019

Fixed Income Notes 10 Januari 2019

  • Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Rabu, 9 Januari 2019 bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah pelaku pasar yang mencermati perkembangan negosiasi perang dagang antara China dengan Amerika Serikat.
  • Perubahan harga yang terjadi pada perdagangan hari Rabu, 9 Januari 2019 hingga mencapai 60 bps yang menyebabkan adanya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 6 bps. Harga Surat Utang Negara bertenor pendek mengalami perubahan harga rata-rata sebesar 1 bps dengan penurunan imbal hasil hingga sebesar 3 bps. Sementara itu harga Surat Utang Negara bertenor menengah mengalami penurunan harga sebesar 6 bps sehingga mengakibatkan imbal hasil mengalami kenaikan hingga 1 bps. Surat Utang Negara dengan tenor panjang juga mengalami penurunan harga hingga mencapai 32 bps yang mengakibatkan imbal hasilnya naik hingga sebesar 4 bps. Adapun untuk seri acuan Surat Utang Negara, kenaikan imbal hasil terjadi pada keseluruhan seri baik untuk yang bertenor 5 tahun hingga 20 tahun. Seri acuan dengan bertenor 5 tahun  dan 10 tahun keduanya mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 1 bps yang berada pada level masing-masing 7,833% dan 7,920%. Untuk seri acuan Surat Utang Negara bertenor 15 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 3 bps yang berada pada level 8,268%, sedangkan untuk seri acuan yang bertenor 20 tahun mengalami kenaikan imbal hasil kurang dari 1 bps berada pada level 8,317%. 
  • Perubahan tingkat imbal hasil yang cenderung mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin masih didorong oleh faktor nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.  Perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ini tidak lepas dari beberapa sentimen dari faktor eksternal diantaranya ialah perkembangan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Pembicaraan mengenai perdagangan Amerika Serikat dan China diperpanjang hingga hari ketiga, Rabu, 9 Januari 2019 di Beijing. Presiden Trump ingin membuat kesepakatan dengan China untuk meningkatkan pasar saham Amerika Serikat yang sedang lesu. Hal tersebut dianggap bahwa China mampu memberikan gambaran prospek lebih baik ditengah pertumbuhan global yang cenderung terkoreksi. Hal ini tercermin pada mata uang Yuan China yang memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,34% terhadap Dollar Amerika. Selain itu, Bank Dunia juga memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 2,9% dan menurunkan target perkiraan ekspansi untuk pasar negara berkembang menjadi 4,2% yang sebelumnya berada pada level 4,7%.
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin seniali Rp15,09 triliun dari 50 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan. Obligasi Negara seri FR0056 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,526 triliun dari 31 transaksi dan diikuti oleh perdagangan Surat Utang Negara seri FR0053 senilai Rp2,384 triliun dari 18 kali transaksi. Adapun Project Based Sukuk seri PBS019 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp838,00 miliar dari 13 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS006 dan PBS016 masing-masing senilai Rp140,00 miliar dari 7 kali transaksi dan Rp103,50 miliar dari 9 kali transaksi.
  • Adapun volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan senilai Rp857,30 miliar dari 44 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 Seri B (ISAT01BCN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp130,0 miliar dari 4 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Bank OCBC NISP Tahap I Tahun 2018 Seri A (NISP03ACN1) senilai Rp120,0 miliar dari 6 kali transaksi. Selanjutnya ialah surat utang korporasi Obligasi Berkelanjutan II PLN Tahap I Tahun 2017 Seri C (PPLN02CCN1) tercatat dengan volume perdagangan senilai Rp95,0 miliar dari 10 kali transaksi.
  • Sementara itu nilai tukar Rupiah ditutup menguat sebesar –23,00 pts (-0,34%) di level 14125 per Dollar Amerika. Sempat dibuka menguat terbatas di awal perdagangan, pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin bergerak berfluktuasi dan mengalami pelemahan pada pertengahan perdagangan yang kemudian ditutup dengan mengalami penguatan menjelang berakhirnya sesi perdagangan pada kisaran 14094 hingga 14178 per Dollar Amerika. Penguatan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin terjadi di tengah bervariasinya arah perubahan nilai tukar mata uang regional. Mata uang Yuan China (CNY) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,34% diikuti oleh penguatan mata uang Peso Filipina (PHP) dan Baht Thailand (THB) masing-masing sebesar 0,23% dab 0,19%. Adapun mata uang Rupee India (INR) memimpin pelemahan mata uang regional, sebesar -0,56% yang diikuti oleh Yen Jepang (JPY) sebesar -0,17% dan Dollar Hongkong (HKD) sebesar –0,01%.
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin menunjukkan penurunan di dorong oleh meningkatnya permintaan aset yang lebih aman (safe haven asset) seiring dengan koreksi yang terjadi di pasar saham global. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup dengan penurunan di level 2,712%. Adapun indeks saham utamanya hanya mengalami kenaikan sebesar 0,870% (NASDAQ) dan 0,390% (DJIA). Imbal hasil surat utang Jerman terlihat mengalami kenaikan pada level 0,216% dan Imbal hasil surat utang Jepang berada pada level 0,026%.
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara berpotensi mengalami penguatan ditengah berkurangnya persepsi risiko terhadap instrumen surat utang negara-negara berkembang dan banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perkembangan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
  • Rekomendasi: Dengan harga Surat Utang Negara yang berpeluang untuk mengalami kenaikan, terutama pada Surat Utang Negara diatas tenor 7 tahun, maka kami menyarankan kepada investor untuk mencermati beberapa Surat Utang Negara dengan tenor Panjang dan melakukan strategi trading untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga tersebut. Beberapa seri Surat Utang Negara yang perlu dicermati adalah berikut ini: FR0075, FR0067, FR0068, FR0072, FR0073.

Download PDF