RESEARCH

RESEARCH

14 Maret 2019

Fixed Income Notes 14 Maret 2019

Pada perdagangan hari Rabu tanggal 13 Maret 2019, harga Surat Utang Negara bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah nilai tukar Rupiah yang mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika.

Perubahan harga Surat Utang Negara mencapai 47 bps dengan rata-rata  kenaikan sebesar 19 bps yang mendorong adanya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 9 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan semua serinya mengalami kenaikan harga yang berkisar antara 9 bps hingga 25 bps yang mengakibatkan adanya penurunan tingkat imbal hasil hingga 3 bps. Adapun perubahan kenaikan harga terbesar didapati pada Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun sebesar 25 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 3 dan dilanjutkan pada Surat Utang Negara bertenor 20 tahun yang ditutup dengan mengalami kenaikan harga sebesar 16 bps yang mengakibatkan turunya tingkat imbal hasil sebesar 1,6 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan harga sebesar 11 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 1,5 bps. Selanjutnya, untuk Surat Utang Negara bertenor 5 tahun mengalami kenaikan harga sebesar 9 bps yang mendorong turunnya imbal hasil sebesar 2,2 bps.

Perubahan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan. Hal ini turut didukung oleh penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditengah suksesnya lelang Surat Utang Negara pada pekan ini. Adapun penguatan nilai tukar Rupiah ini disebabkan dari faktor domestik dimana Bank Indonesia akan menjaga likuiditasnya sehingga asing dapat menginvestasikan dananya ke Indonesia. Selain itu, sentimen positif juga berasal dari faktor eksternal dimana dalam Komite Keuangan Senat Amerika menyatakan bahwa proses perundingan dagang dengan China sudah memasuki fase akhir sehingga dapat terjadi kesepakatan dalam waktu dekat. Hal ini berdampak kepada para pelaku pasar yang semakin optimis terhadap kondisi pasar global. Hal ini membuat para pelaku pasar lebih optimis untuk bermain di aset beresiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga nantinya akan berdampak positif kepada nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Kenaikan harga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah kenaikan tingkat imbal hasil US Treasury. Kenaikan harga didapati pada semua seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Adapun harga seri INDO24 mengalami kenaikan harga sebesar 20 bps yang mendorong perubahan imbal hasil sebesar 4,3 bps di level 3,667%. Adapun untuk seri INDO29 dan INDO44, keduanya mengalami perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 3,5 bps masing-masing berada pada level 4,130% dan 4,976% yang diakibatkan oleh peningkatan harga masing-masing sebesar 32,8 bps dan 41,2 bps. INDO49 juga mengalami kenaikan harga sebesar 50 bps yang berdampak kepada penurunan imbal hasil sebesar 3 bps di level 4,878%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp15,48 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara yang ditransaksikan. Surat Utang Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,79 triliun dari 55 kali transaksi di harga rata - rata 102,95% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp1,84 triliun dari 49 kali transaksi di harga rata - rata 102,61%. Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp338,00 miliar dari 8 kali transaksi dan diiringi dengan volume Sukuk Negara Ritel seri SR009 sebesar Rp43,13 miliar untuk 21 kali transaksi.

Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,08 dari 50 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap I Tahun 2019 Seri A (ISAT03ACN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp151,00 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 100,18% dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan IV Mandiri Tunas Finance Tahap I Tahun 2019 Seri A (TUFI04ACN1) senilai Rp146,95 miliar dari 1 kali transaksi di harga  100,40%. Adapun Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap III Tahun 2018 Seri A (ISAT02ACN3) dan Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap II Tahun 2017 Seri D (BBRI02DCN2) dengan volume masing-masing sebesar Rp100,20 miliar untuk 8 kali transaksi dan Rp102,28 miliar dari 11 kali perdagangan.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin hari Rabu, tanggal 13 Maret 2019 mengalami penguatan terbatas sebesar 1 pts (0,00%) di level 14265,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan dimana terjadi penguatan pada awal sesi perdagangan namun melemah kembali di pertengahan sesi perdagangan. Adapun pada akhir perdagangan Rupiah ditutup dengan mengalami penguatan terbatas pada kisaran 14245 hingga 14284 per Dollar Amerika. Penguatan mata uang Rupiah ini seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang bergerak bervariatif terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun mata uang Rupee India (INR) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,30% dan diikuti oleh mata uang Peso Filipina (PHP) yang menguat sebesar 0,25%. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,26% kemudian diikuti dengan nilai tukar mata uang Ringgit Malaysia (MYR) yang mengalami koreksi sebesar 0,14% terhadap Dollar Amerika.

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami penguatan sebesar 1,1 bps pada level 2,621%. Hal ini seiring dengan yang terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penguatan sebesar 0,5 bps sehingga berada pada level 3,015%. Penguatan imbal hasil US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami penguatan, dimana indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 69 bps sehingga berada pada level 7643,40 sejalan dengan indeks DJIA yang juga mengalami penguatan sebesar 58 bps sehingga berada pada level 25702,89. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan tenor 30 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan masing-masing di level 1,20% dan 1,73%. Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun dan 30 tahun juga ikut mengalami kenaikan terbatas masing-masing di level 0,07% dan 0,74%.

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan masih berpeluang untuk mengalami kenaikan yang didorong oleh penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Penguatan Rupiah ini terjadi akibat optimisnya para pelaku pasar terhadap hubungan dagang antara Amerika dan China yang semakin membaik. Disamping itu para pelaku pasar juga masih menantikan disampaikannya data neraca perdagangan bulan Februari 2019 pada hari Jumat 15 Maret 2019.  

Rekomendasi

Dengan kondisi tersebut maka peluang untuk mendapatkan capital gain akan didapati pada Surat Utang Negara dengan tenor di bawah 10 tahun, sehingga kami menyarankan kepada investor untuk menerapkan strategi trading di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung mengalami kenaikan. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0069, FR0053, FR0061, FR0070 dan FR0059.

Kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara mengalami penurunan senilai Rp 4,94 triliun. 

Download PDF