RESEARCH

RESEARCH

28 Desember 2018

Fixed Income Notes 28 Desember 2018

Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan Kamis, 27 Desember 2018 kembali bergerak bervariasi dengan perubahan tingkat imbal hasil yang terbatas jelang berakhirnya hari perdagangan di tahun 2018.

Perubahan tingkat imbal hasil yang terjadi berkisar antara 1 bps hingga 5 bps yang didorong oleh adanya perubahan harga hingga sebesar 45 bps. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami perubahan hingga sebesar 3 bps di tengah terbatasnya perubahan harga yang terjadi kurang dari 5 bps. Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah terlihat mengalami penurunan hingga sebesar 4 bps yang didorong oleh adanya kenaikan harganya yang mencapai 15 bps. Sedangkan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang cenderung bergerak dengan mengalami penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 5 bps yang didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 45 bps. Arah perubahan tingkat imbal hasil yang beragam juga didapati pada Surat Utang Negara seri acuan, dimana seri acuan dengan tenor 15 tahun mengalami kenaikan imbal hasil kurang 1 bps di level 8,168%. Adapun tiga seri acuan lainnya terlihat mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 3,7 bps untuk tenor 5 tahun di level 7,729%, penurunan sebesar 1,7 bps untuk tenor 10 tahun di level 7,941% dan penurunan sebesar 1,9 bps di level 8,345% untuk seri acuan dengan tenor 20 tahun.

Faktor meredanya tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika menjadi faktor yang mendorong kecenderungan penurunan tingkat imbal hasil pada perdagangan di hari Kamis. Selain itu, pergerakan imbal hasil surat utang global yang juga cenderung mengalami penurunan juga menjadi katalis yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil. Dari faktor domestik, upaya pelaku pasar untuk mengoptimalkan kinerja protofolio investasinya di tahun 2018 telah mendorong terjadinya kenaikan harga atas beberapa seri Surat Utang Negara yang menyebabkan penurunan tingkat imbal hasilnya. 

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, arah pergerakan tingkat imbal hasil juga bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan seiring dengan membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). Hanya saja penurunan tingkat imbal hasil yang terjadi relatif terbatas dikarenakan imbal hasil US Treasury pada perdagangan sebelumnya terlihat mengalami kenaikan di tengah perbaikan yang terjadi di pasar saham Amerika. Imbal hasil dari INDO23 mengalami kenaikan sebesar 1 bps di level 4,138% setelah mengalami penurunan harga sebesar 3,5 bps. Adapun imbal hasil dari INDO28 dan INDO43 terlihat mengalami penurunan tingkat imbal hasil yang kurang dari 1 bps masing - masing di level 4,509% dan 5,158%. 

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp9,14 triliun dari 42 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan mencapai Rp3,18 triliun. Obligasi Negara seri FR0063 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,824 triliun dari 19 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0064 senilai Rp879,8 miliar dari 19 kali transaksi. Adapun Surat Perbendaharaan Negara seri SPNS11042019 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp585,0 miliar dari 2 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS014 senilai Rp390,18 miliar juga dari 2 kali transaksi. 

Sementara itu dari 47 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp730,54 miliar. Obligasi Berkelanjutan II Batavia Prosperindo Finance Tahap I Tahun 2018 (BPFI02CN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp80,00 miliar dari 2kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap III Tahun 2018 Seri E (ADMF04ECN3) senilai Rp64,0 miliar dari 2 kali transaski. Sedangkan Sukuk Mudharabah Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry I Tahun 2018 Seri B (SMLPPI01B) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp36,0 miliar dari 2 kali transaksi. 

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditutup dengan mengalami penguatan terbatas sebesar 16,00 pts (0,11%) di level 14561,00 per Dollar Amerika. Bergerak pada kisaran 14557,50 hingga 14590,00 per Dollar Amerika, arah perubahan nilai tukar Rupiah cukup berfluktuasi dimana dibuka dengan mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika namun pada pertengahan sesi perdagangan terlihat mengalami pelemahan dan akhirnya ditutup dengan mengalami penguatan jelang berakhirnya sesi perdagangan. Penguatan nilai tukar Rupiah tersebut seiring dengan penguatan mata uang Regional terhadap Dollar Amerika. Mata uang Yen Jepang (JPY) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,52% yang diikuti oleh mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,46% dan Peso Philippina (PHP) sebesar 0,36%. Adapun mata uang Rupee India (INR) terlihat mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika, sebesar 0,34% yang diikuti oleh pelemahan mata uang Dollar Singapura (SGD) sebesar 0,05%.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan arah perubahan yang beragam dengan kecenderungan mengalami penurunan yang dipimpin oleh penurunan imbal hasil dari surat utang Jerman. Imbal hasil surat utang Jerman ditutup dengan penurunan di level 0,22% atau turun sebesar  8,57% dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap aset yang lebih aman (safe haven asset) di tengah indeks pasar sahamnya mengalami penurunan hingga mencapai 2,37%. Adapun imbal hasil surat utang Inggris terlihat mengalami kenaikan dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya di kisaran 1,311%. Sementara itu imbal hasil US Treasury ditutup dengan mengalami penurunan dimana untuk tenor 10 tahun ditutup di level 2,774% dan tenor 30 tahun di level 3,054% setelah pasar saham Amerika pada awal perdagangan sempat mengalami penurunan mendorong investor untuk menempatkan dananya pada aset yang lebih aman. 

Pada perdagangan hari ini yang sekaligus juga menutup perdagangan di tahun 2018, kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih berpeluang untuk mengalami kenaikan didorong oleh berlanjutnya aksi window dressing oleh pelaku pasar. Selain itu potensi penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika seiring dengan pelemahan mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang utama dunia akan turut menjadi katalis positif bagi pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini. Hanya saja penguatan harga akan cenderung terbatas jelang akan kembali dilaksanakannya lelang penjualan Surat Utang Negara pada pekan depan, dimana harga Surat Utang Negara akan cenderung mengalami penurunan jelang pelaksanaan lelang.

Rekomendasi : Seiring dengan segera berakhirnya sesi perdagangan di tahun 2018, maka kami menyarankan kepada investor untuk mengantisipasi perdagangan di tahun 2019  mendatang. Bagi investor yang ingin melakukan strategi trading, maka kami merekomendasikan seri - seri acuan yang akan digunakan di tahun depan, yaitu FR0077, FR0078, FR0068 dan FR0079 yang masing - masing merupakan seri acuan dengan tenor 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun. Adapun seri - seri diluar seri acuan yang masih cukup menarik diantaranya adalah seri FR0053, FR0061, FR0070, FR0071 dan FR0072. 

Rencana Lelang Surat Utang Negara seri SPN03190406 (New Issuance), SPN12200106 (New Issuance), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening) dan FR0079 (New Issuance) pada hari Kamis, tanggal 3 Januari 2019.

 

Download PDF