33333fixed-income-notes-28-februari-2019fixed-income-notes-28-
RESEARCH

MNCS Daily Scope Wave

28 Februari 2019

Fixed Income Notes 28 Februari 2019

Pada perdagangan hari Rabu tanggal 27 Februari 2019, harga Surat Utang Negara bergerak dengan arah bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah sentimen damai perang dagang antara Amerika dan China serta katalis positif dari Bank Sentral Amerika yang masih akan bersabar (dovish) dengan kenaikan suku bunga acuannya.

Perubahan harga Surat Utang Negara mencapai 51 bps dengan rata-rata  kenaikan sebesar 3,5 bps yang mendorong adanya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 5,5 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan mengalami perubahan harga yang bervariasi dari keempat serinya. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun didapati kenaikan harga masing-masing sebesar 13 bps dan 10 bps yang mendorong turunnya imbal hasil sebesar 2,9 bps di level 7,497% dan 1,4 bps di level 7,779%. Sedangkan, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun dan 20 tahun mengalami penurunan harga masing-masing sebesar 22 bps dan 8 bps yang mengakibatkan kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 2,5 bps di level 8,016% dan 0,8 bps di level 8,218% 

Pada perdagangan kemarin, perubahan harga Surat Utang Negara bergerak dengan arah bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan. Hal ini turut didukung oleh sentimen eksternal terkait damai perang dagang antara Amerika dan China serta pertemuan Presiden Amerika Donald Trump dengan Presiden Korea Utara Kim Jong Un yang diharapkan membawa pertumbuhan ekonomi kedua negara. Selain itu, sentimen positif juga datang dari Amerika yang bersifat sabar (dovish) terhadap kenaikan tingkat suku bunga acuannya setelah dikuatkan kembali dari pernyataan Powell kemarin. Adapun perubahan harga Surat Utang Negara juga berasal dari faktor domestik yang didapati bahwa permintaan peserta lelang pada pekan ini merupakan nilai permintaan tertinggi yang pernah dicapai, yaitu sebesar Rp93,93 triliun sehingga permerintah berhasil meraup dana sebesar Rp 22 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih merespon positif kondisi pasar saat ini. Namun, dampak dari beberapa katalis positif tersebut membuat para pelaku pasar untuk mengambil tindakan aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan kemarin, sehingga harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin cenderung bergerak bervariasi. 

Perubahan harga juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika terjadi ditengah turunnya tingkat imbal hasil US Treasury. Kenaikan harga didapati pada sebagian besar seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Adapun untuk harga seri INDO24 mengalami kenaikan harga sebesar 8 bps yang mendorong perubahan imbal hasil sebesar 2 bps di level 3,840%. Adapun untuk seri INDO29 dan INDO49, keduanya mengalami kenaikan harga sebesar 4,5 bps dan 0,1 bps sehingga berdampak kepada penurunan tingkat imbal hasil masing-masing di level 4,167% dan 4,883%. Sementara itu, harga INDO44 mengalami penurunan sebesar 5 bps yang mengakibatkan naiknya tingkat imbal hasil sebesar  0,3 bps di level 4,987%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp20,46 triliun dari 47 seri Surat Utang Negara yang ditransaksikan. Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,47 triliun dari 204 kali transaksi di harga rata - rata 102,99% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp3,88 triliun dari 88 kali transaksi di harga rata - rata 101,80%. Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp352,00 miliar dari 15 kali transaksi dan diiringi dengan volume Project Based Sukuk seri PBS006 sebesar Rp170,00 miliar untuk 5 kali transaksi.

Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih besar daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,13 triliun dari 54 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap VII Tahun 2019 Seri A (SMFP04ACN7) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp150,00 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata - rata 100,01% dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan II Waskita Karya Tahap III Tahun 2017 Seri B (WSKT02BCN3) senilai Rp121,00 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 100,24%.  

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin hari Rabu, tanggal 27 Februari 2019 mengalami pelemahan sebesar 38 pts (0,27%) di level 14030,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin sempat mengalami penguatan di awal sesi perdagangan, namun beberapa saat kemudian hingga akhir sesi perdagangan rupiah kembali melemah terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun mata uang Renminbi China (CNY) memimpin penguatan terhadap mata uang regional sebesar 0,28% dan diikuti oleh mata uang Peso Filipina (PHP) dan mata uang Ringgit Malaysia (MYR) masing-masing sebesar 0,23% dan 0,16% terhadap Dollar Amerika. Sementara itu, mata uang yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,27% dan diikuti dengan mata uang Baht Thailand (THB) dan mata uang Rupee India (INR) masing-masing melemah sebesar 0,25% dan 0,24% terhadap mata uang Dollar Amerika. 

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami koreksi masing-masing sebesar 1,4 bps di level 2,679% dan 0,6 bps di level 3,062%. Adapun tingkat imbal hasil US Treasury yang mengalami koreksi ini, ditengah kondisi pasar saham Amerika yang mengalami perubahan yang beragam, dimana indeks DJIA turun sebesar 28 bps di level 25985,16 sedangkan indeks NASDAQ ditutup dengan mengalami kenaikan sebesar 7 bps di level 7554,51. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan tenor 30 tahun ditutup dengan mengalami penurunan masing-masing di level 1,273% dan 1,805%. Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun dan 30 tahun juga ikut mengalami kenaikan terbatas masing-masing di level 0,156% dan 0,775%.

Pada perdagangan hari Kamis, 28 Februari 2019, kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan adanya peluang untuk mengalami koreksi. Hal ini dipicu oleh adanya kemungkinan para pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung setelah terjadi penguatan harga dalam hampir sepekan penuh. Selain itu, pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini juga masih akan dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.   

Rekomendasi

Dengan masih terbukanya peluang terjadinya koreksi harga, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus pada seri Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah. Arah pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati diantaranya adalah sebagai berikut ini : FR0070, FR0056, FR0071, FR0059, FR0053 dan FR0077.

Kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara mengalami kenaikan senilai Rp 23,85 triliun. 

Back Download PDF