RESEARCH

RESEARCH

31 Januari 2019

Fixed Income Notes 31 Januari 2019

 
Harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Rabu, tanggal 30 Januari 2019 bergerak terbatas dengan arah perubahan yang bervariasi ditengah pelemahan nilai tukar Rupiah jelang berakhirnya Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika (FOMC Meeting).
 
Pada perdagangan hari Rabu, tanggal 30 Januari 2019 tingkat perubahan harga yang terjadi hingga sebesar 45 bps sehingga berdampak terhadap perubahan tingkat imbal hasilnya hingga sebesar 8 bps. Sementara itu dari Obligasi Negara seri acuan, perubahan harga yang terjadi relatif terbatas yaitu kurang dari 5 bps sehingga berdampak kepada tingkat imbal hasil yang juga tidak banyak mengalami perubahan, sebesar kurang dari 1 bps. Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun mengalami perubahan harga sebesar 1 bps mengakibatkan terjadinya kenaikan imbal hasil yang terbatas, kurang dari 1 bps di level 7,964% dan Surat Utang Negara dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 0,5 bps di level 8,130% yang didorong oleh adanya penurunan harga sebesar 3 bps. Untuk yang bertenor 15 tahun, perubahan kenaikan harga sebesar 5 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan imbal hanya sebesar 0,6 bps. Adapun untuk Obligasi Negara bertenor 20 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 0,2 bps di level 8,543 yang didorong oleh perubahan harga yang terkoreksi sebesar 2 bps.
 
Jelang berakhirnya Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika (FOMC Meeting) pada perdagangan kemarin, harga Surat Utang Negara  bergerak terbatas dengan mengalami arah perubahan yang beragam. Salah satu faktor penyebab dari perubahan harga Surat Utang Negara tersebut adalah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Perubahan tingkat imbal hasil yang terbatas pada perdagangan kemarin juga turut dipengaruhi oleh investor yang masih mencermati hasil dari Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika serta dimulainya pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Adapun volume perdagangan pada perdagangan Surat Utang kemarin tergolong masih cukup besar yang mencapai Rp21,97 triliun dari 36 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Meskipun secana nominal menurun bila dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya, namun hal ini dapat terindikasi bahwa para pelaku pasar masih optimis terhadap kondisi pasar saat ini. 
 
Imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika mengalami kecenderungan penurunan ditengah tingkat harga US Treasury yang bergerak cenderung mengalami kenaikan dan membaiknya persepsi risiko di tengah gejolak yang terjadi di pasar keuangan global. Perubahan imbal hasil terjadi pada keseluruhan seri Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika. Imbal hasil INDO24 mengalami penurunan terbesar sebesar 4,6 bps di level 3,877% yang didorong terjadinya penurunan harga sebesar 22 bps. Sementara itu untuk INDO29 mengalami penurunan imbal hasil sebesar 3 bps di level 4,281% yang disebabkan penurunan harga sebesar 25 bps. Adapun untuk INDO44 juga mengalami penurunan imbal hasil sebesar 2,5 bps di level 5,038% yang didorong oleh penurunan harga sebesar 40 bps. Sementara itu, untuk INDO49 mengalami penurunan imbal hasil sebesar 3,6 bps di level 4,945% yang disebabkan penurunan harga sebesar 58,5 bps.
 
Volume Surat Utang Negara yang dilaporkan masih cukup besar senilai Rp21,97 triliun dari 36 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada Surat Utang Negara seri FR0059 senilai Rp4,005 triliun dari 63 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Surat Utang Negara seri FR0069 dan FR0077 masing-masing senilai Rp3,682 sebanyak 29 kali transaksi dan Rp3,617 triliun dari 52 kali transaksi. Adapun untuk Sukuk Negara perdagangan terbesar didapati dari Project Based Sukuk seri PBS013 senilai Rp324,00 miliar dari 6 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Sukuk Negara Ritel seri SR008 dengan nilai Rp311,31 miliar sebanyak 11 kali transaksi.
 
Sementara itu, dari perdagangan surat utang korporasi, volume yang dilaporkan senilai Rp1,38 triliun dari 44 seri, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan III Astra Sedaya Finance Tahap III Tahun 2017 Seri B (ASDF03BCN3) dengan nilai Rp180,00 miliar dari 4 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Bank Sulselbar Tahap I Tahun 2018 (BSSB02ACN1) senilai Rp132,00 miliar dari 11 kali transaksi. Adapun untuk volume obligasi korporasi sebesar Rp130,00 miliar untuk 2 kali transaksi didapati pada Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap III Tahun 2018 Seri A  (ISAT02ACN3). Selanjutnya Obligasi Berkelanjutan II FIF Tahap III Tahun 2016 Seri B (FIFA02BCN3) didapati volume senilai Rp96,00 miliar dari 2 kali transaksi.
 
Nilai tukar Rupiah pada perdagangan hari Rabu, 30 Januari 2019 ditutup melemah sebesar 37 pts (0,26%) pada level Rp14131,00 per Dollar Amerika. Adapun nilai tukar Rupiah sempat menguat di awal sesi perdagangan namun dipertengahan hingga akhir sesi perdagangan nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika, bergerak pada kisaran 14087,50 hingga 14131,00  per Dollar Amerika. Pelemahan nilai tukar Rupiah ini terjadi ditengah penguatan sebagian besar nilai mata uang regional. Mata uang Baht Thailand (THB) dan mata uang Renminbi China (CNY) merupakan mata uang yang mengalami penguatan tertinggi, masing—masing sebesar 0,42% dan 0,27% kemudian diiringi oleh penguatan mata uang Peso Filipina (PHP) sebesar 0,15%. Selanjutnya, mata uang Ringgit Malaysia (MYR) dan mata uang Dollar Taiwan (TWD) juga mengalami penguatan mata uang regional masing-masing sebesar 0,13% dan 0,12%. Adapun untuk pelemahan mata uang regional terbesar terjadi pada mata uang Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,25% kemudian diiringi dengan pelemahan mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,02%. Adapun untuk mata uang Yen Jepang (JPY) dan Won Korea Selatan (KRW) tidak mengalami perubahan nilai tukar terhadap Dollar Amerika.
 
Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun ditutup dengan kondisi mengalami pelemahan sebesar 119 bps berada pada level 2,68%, seiring dengan penurunan yang terjadi pada imbal hasil US Treasury dengan tenor 30 tahun yang ditutup melemah di level 3,03%. Namun, pergerakan pasar saham Amerika Serikat mengalami arah perubahan yang positif dimana indeks saham utamanya mengalami penguatan. Indeks DJIA menguat sebesar 177 bps di level 25014,86 dan indeks NASDAQ juga ditutup dengan kondisi mengalami penguatan sebesar 220 bps di level 7183,08. Adapun untuk imbal hasil surat utang Inggris (GILT) bertenor 10 tahun mengalami penguatan terbatas sehingga berada pada level 1,258%. Sedangkan, untuk surat utang Jerman bertenor 10 tahun mengalami arah pergerakan yang terkoreksi pada level 0,185%.
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara berpeluang mengalami koreksi di tengah pengumuman suku bunga acuan Amerika Serikat yang tetap berada di level 2,25%-2,50%. Di bulan Januari, pasar Surat Utang Negara mencatatkan kinerja positif yang tercermin pada penurunan tingkat imbal hasil yang didorong oleh masuknya pemodal asing dari pasar Surat Berharga Negara seiring dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Hingga 28 Januari 2018, investor asing mencatatkan pembelian bersih Surat Berharga Negara senilai Rp7,09 triliun di sepanjang bulan Januari 2019. Namun demikian, perubahan harga pada hari ini akan dibatasi oleh faktor pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih berpotensi untuk mengalami pelemahan di tengah penguatan mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang utama dunia.
 
Rekomendasi Dengan pertimbangan beberapa faktor di atas kami menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder jelang berakhirnya FOMC Meeting yang menetapkan suku bunga acuannya yang tetap berada pada level 2,25%-2,50%, dimana arah pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan dipengaruhi oleh arah pergerakan nilai tukar Rupiah. Beberapa seri yang kami lihat cukup menarik di tengah kondisi pasar saat ini, yaitu : FR0053, FR0061, FR0068, FR0077, FR0056 dan FR0070.
 
Kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara mengalami kenaikan senilai Rp 7,09 triliun. 
 
PT Peringkat Efek Indonesia menetapkan peringkat “idAAA” terhadap PT Bank Danamon Indonesia Tbk yang diikuti dengan rencana merger PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk.

Download PDF